DOA UNTUK SEBUAH NAMA:
Sunday, October 5th, 2008“(Yang dibacalan ini adalah), penjelasan tentang rahmat Rabb-mu kepada hamba-Nya, Zakariyya.
Yaitu ketika dia berdoa kepada Rabb-nya dengan suara yang lembut.
Dia (Zakariyya) berkata : Ya Rabb-ku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Rabb-ku
Dan sungguh aku khawatir terhadap keturunan sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu
Yang mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’kub; dan jadikanlah dia ya Rabb-ku seorang yang diridhai.”
(Allah berfirman)” Wahai Zakariyya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.
Dia (Zakariyya) berkata : Ya Rabb-ku bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua ?”
Allah berfirman :”Demikianlah.””Rabb-mu berfirman:”Hal itu mudah bagiKu; sungguh engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”
(Q.S Maryam 2 – 9)
Kisah Nabi Zakariyya adalah kisah bagaimana seorang manusia tidak boleh berputus-asa dari rahmat Allah SWT. Beliau sudah memasuki usia uzur sedangkan istrinya juga dalam kondisi mandul. Ketulusan doa beliau mengatasi semua keterbatasan manusiawi. Juga ketulusan cita-cita keturunan beliau sebagai penerus perjuangan dakwah. Melanjutkan pewarisan tugas risalah kenabian untuk menegakkan tauhid di tengah roda peradaban.
Saat ini begitu banyak orang tua yang berdoa mengharapkan keturunan.. Ada yang sudah mendapat vonis tidak akan mendapatkan keturunan. Atau mereka yang secara medis tidak bermasalah, tetapi belum dikaruniai keturunan. Ada yang memohon keturunan untuk sekadar membuktikan bahwa mereka tidak mandul. Atau sekedar pelengkap kebahagiaan. Nabi Zakariyya mengajarkan kepada kita bahwa memohon diberikan keturunan untuk melanjutkan estafet perjuangan dalam berdakwah. Dalam berdoa kita masih sering berfikir bagaimana cara Allah swt akan mengabulkan do’a tersebut. Padahal Allah SWT telah menyatakan bahwa kalau Allah menghendaki cukup dengan Kun Fayakun (Jadilah maka akan jadi)
Setiap permintaan ada konsekuensinya. Setiap doa harus bisa dipertanggungjawabkan. Ketika kita berdoa mengharapkan amanah keturunan. Maka sederet tugas mendidik anak telah kita terima. Dan dalam deretan pertama mendidik anak adalah memberi nama yang baik. Nabi Yahya adalah salah satu nama yang baik yang dipilih sebagai nama untuk keturunan Nabi Zakariyya. Orang tua Maryam juga menadzarkan keturunannya untuk berbakti kepada Allah SWT. Kelak Maryam pun menjadi ahli ibadah yang disebut-sebut Nabi sebagai salah satu wanita penghulu ahli surga.
Nama adalah cita-cita, harapan dan do’a, ia juga menjadi identitas bagi seseorang, tak hanya di dunia juga di hari akhir kelak, ketika masing-masing individu dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Maha Pencipta, semua dipanggil dengan nama masing-masing dan nama ayahnya. Oleh karena itulah, menjadi sebuah kewajiban bagi kami orang tua untuk memberi nama anak-anak kami dengan nama yang baik, indah dan mencerminkan harapan atas masa depan anak-dunia dan akhiratnya.
Setelah memberi nama yang baik, tanggungjawab selanjutnya adalah mendidik dan membekali, dan mengantarnya hingga mampu menjalankan tugas kehambaannya dan tugas kekhalifahannya sebagai pemakmur bumi. Bekalan itu tentu saja meliputi bekal jasmani dan ruhani, akal dan hati agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah baik fisik, akal, maupun jiwanya. Bimbingan dan arahan dari mereka yang berhasil mendidik anak-anak menjadi pribadi yang shalih dan shalihah sangat kami harapkan untuk melaksanakan tugas ini.
Haniya Rumaisya
Kami memilih nama Haniya Rumaisya melalui proses diskusi yang cukup panjang. Terutama dengan orang-orang terdekat. Memberi nama yang akan melekat sepanjang hayat, bahkan nama yang akan dibawa terus di dunia dan akhirat.
Haniya bermakna kebahagiaan sedangkan Rumaisya adalah sosok shahabiyah (shahabat wanita) yang menjadi teladan dalam keutamaan. Kebahagiaan yang kami harapkan adalah kebahagiaan yang mengandung keberkahan. Keberkahan yang ditandai dengan ziyadatul khoir (bertambahnya kebaikan).
Ustadz M. Fauzil Adhim menuliskan pesan singkat yang cukup bermakna:
Betapa sedikitnya
Anak-anak yang terlahir karena betul-betul
diharapkan kelahirannya untuk dakwah
Sebagaimana lahirnya Nabi Yahya
Atas do’a tulus Nabi Zakariyya
Maka, iringilah hidupnya
Dengan do’a yang tak putus-putus
Untuk kemanfaatan bagi umat dan agama ini
Doakan ia dengan tulus
Bukan untuk kebahagiaannya
Tetapi untuk keberkahannya bagi dakwah
Sebab bahagia itu pasti ada
Jika hidupnya berkah
sementara dalam kebahagiaan
Belum tentu ada berkah….
Semoga putri kami, Haniya Rumaisya adalah termasuk anak yang sedikit itu.