Archive for February, 2007

YANG GEMUK DI JALAN DAKWAH

Monday, February 26th, 2007

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” (K.H. Ahmad Dahlan) Tulisan ini bukan hanya ditujukan kepada warga Muhammadiyah, tetapi kepada siapa saja yang menjadi obyek, pelaku bahkan pengamat dakwah. Untuk memulainya ada baiknya kita simak kisah dalam sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang sahabat yang sangat miskin. Sahabat ini bernama Tsa’labah. Beliau dianugerahi semangat ibadah dan dakwah yang luar biasa minus kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Hingga dengan penuh harap meminta Rasulullah mendoakan agar dimudahkan rizkinya oleh Allah SWT, dengan harapan ia dapat lebih semangat beribadah dan berdakwah. Akan tetapi setelah dibukan rizki, bisnisnya jaya, ternaknya berlimpah, pakaiannya tidak harus bergantian dengan istrinya…apa yang terjadi : dunia memalingkannya dari akhirat. Ketahuilah dunia itu hijau dan manis, tetapi yang paling bahagia adalah yang paling membencinya, sedangkan yang paling sengsara adalah yang paling menginginkannya. Dunia akan menipu orang yang meminta nasihatnya dan menyesatkan orang yang menaatinya. Dunia adalah tempat kesusahan, bukan kesenangan. Orang yang mengetahuinya, tidak gembira dengan kelapangan yang didapat atau bersedih karena kesengsaraan yang dialaminya. Allah menjadikan pahala akhirat sebagai kompensasi dari ujian dunia. Dunia boleh di tangan tapi tidak boleh merasuk ke dalam hati dan jiwa seorang mukmin. Hati seorang mukmin sudah qonaah dengan janji Allah SWT tentang jannah yang akan diraihnya bila ia mati dalam khusnul khatimah, atau meraih gelar syuhada dari Allah SWT. Fase dakwah sudah berada di tikungan sejarah. Seperti ketika Rasullah SAW bersama para sahabat dalam fase perang Hunain. Banyak di kalangan sahabat yang terkena penyakit :”Idz a’jabatkum bikatsratikum.” Dan gejala (baru gejala) penyakit wahn mulai mewabah. Allah memberikan ujian lewat perang ini. Hampir saja umat Islam dikalahkan oleh musuh-musuh Islam saat itu. Atas nikmat dan pertolongan Allah kekalahan yang di depan mata menjadi kemenangan. Ujian itu pun belum berakhir, ghanimah adalah ujian selanjutnya. Harta yang me;limpah ruah menggoda keimanan para sahabat binaan Rasulullah. Karena tabiat bagi pencari akhirat; dunia akan datang mengodanya. Keadilan Rasulullah sempat digugat. Tetapi akhirnya teruji mana loyang dan mana emas. Mana mukmin dan mana munafik. Mana ahli akhirat dan mana ahli dunia. (Semoga kita termasuk golongan ahli akhirat, dan berhak atas ridlo dan jannah Allah SWT). Mereka yang mendahulukan akhirat daripada dunia memilih (menaati) Rasulullah daripada berebut dengan orang yang baru dibukakan hatinya oleh iman dan masih tergoda oleh harta dunia (mualaf Islam dan dakwah sekaligus). Itulah itsar ahli Madinah yang sempat termakan isu bahwa Rasulullah mendahulukan kaumnya dari kaum Anshar. Itulah penguji keimanan “ghanimah”. Maka dalam surat An-Nashr ayat 1 sampai 3 disebutkan : “Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka tasbihlah engkau sertu memuji Rabb-Mu dan minta ampunlah engkau kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Penerima Taubat.” Jadi kalau anda adalah seorang dai yang dahulu sering berjalan kaki atau bersepeda pancal dengan Al-Quran di saku ata tas anda, kemudian saat ini anda duduk sebagai anggota dewan yang terhormat (saya kurang setuju dengan istilah ini, sebab dimana-mana yang namanya suatu jabatan lebih tinggi daripada wakilnya- rakyat lebih tinggi dan terhormat daripada wakilnya-red) berjas dan berdasi, sering ‘wiridan sms’ dengan hp model terbaru, kendaraan paling nyaman se-Indonesia, fasilitas kehidupan yang serba ‘ada’, wewenang dan pengaruh yang mempesona anda…….waspadalah, sekuat apapun keimanan anda, anda adalah manusia yang lemah dan hina dina….apalagi kalau perut sudah mulai buncit….atau anda adalah aktivis mahasiswa yang lebih makmur dari rekan anda yang berwira usaha….atau anda adalah ustadz lulusan Timur Tengah yang laris dimana-mana, dengan penghasilan melebihi lulusan Chicago University…atau anda termasuk yang jualan label ‘syariah’, tanpa memiliki keseriusan memperjuangkan syariah Allah dan hanya ikut-ikutan saja meraih pangsa pasar umat…waspadalah, apalagi kalau anda berlimpah nikmat padahal anda bergelimang maksiat, itulah istidraj…sekali lagi waspadalah, kejahatan tidak hanya disebabkan oleh niat dari si pelaku tetapi seringkali juga disebabkan karena adanya kesempatan, waspadalah………waspadalah…….waspadalah (kata Bang Napi).

LIFO DAN FIFO

Monday, February 26th, 2007

Lifo adalah kepanjangan dari Last In First Out, sedangkan FIFO adalah First In First Out, So what’s is the matter?

Konsep LIFO dan FIFO biasanya diterapkan dalam mengelola persediaan. Nah masalahnya adalah tentang persediaan akhwat yang melimpah dan ikhwan yang lack of stock. Bagaimana melakukan manajemen persediaan yang tepat. LIFO atau FIFO? Kemudian bagaiman menjadi stokis  (murobbi atau qiyadah dakwah) yang baik? Tulisan ini berusaha melakukan deskripsi, argumentasi dan persuasi.

Ujung-ujungnya nikah. Itulah keluhan di antara para ikhwan yang belum menikah, ketika mendengarkan kajiaan dari seorang ustadz. Adapun ustadz pun sering mengeluh, apakah materi kajiannya belum mampu menggugah para ikhwan untuk menjawab penantian panjang para akhwat.

Akhwat adalah wanita. Sedangkan ikhwan adalah lelaki. Seorang akhwat terkadang tidak bisa mengalahkan kewanitaannya dalam momen-momen tertentu. Khususnya ketika menjaga ‘fitnah hati’ menjelang hari H, bulan B, tahun T pernikahannya. Lalu apakah ikhwan lebih mampu menjaga keikhwanannya untuk mengendalikan kelelakiannya ? Wallahua’lam, yang jelas ikhwan adalah manusia biasa, bedanya ia memahami, menghayati dan berusaha mengamalkan batas-batas syar’i. Karena sesuatu yang manusiawi belum tentu syar’i. Nah disinilah titik temu penantian akhwat dan keraguan ikhwan.

Rumus persamaan dalam matematika menyatakan :

Jika x + y = 0, maka x ≠ y

Apabila variabel x kita ganti keraguan ikhwan dan penantian akhwat kita beri variabel y, maka agar terjadi titik pernikahan harus ada salah satu variabel yang bernilai positif. Misalkan kita ganti variabel x dengan kemantapan ikhwan dan variabel y dengan ‘pemaksaan’ (baca doa dan ikhtiar) akhwat, maka hasilnya tidak akan 0, tetapi bisa 1, 2, 3… dan seterusnya. Tergantung jumlah anak yang diperoleh dari hasil pernikahan.

Stokis (baca: murobbi) adalah sosok orang tua angkat bagi downline (baca : mutarobbi). Ujian seorang murobbi, salah satunya adalah mempersiapkan usroh bagi downlinenya. Secara spesifik tugas murobbi dalam hal ini adalah mencarikan istri bagi mutarobbinya, sebagai konsekuensi larangan berpacaran dalam tema-tema liqo’. Sehingga murobbi harus betul-betul dewasa, menyelami dan mengarahkan keinginan mutarobbinya. Bahsa qoror kurang tepat untuk situasi hari ini, apalagi dalam hal ‘akulturasi generasi ikhwan-akhwat’(baca: pernikahan). Harus ada titik temu harapan dan kenyataan. Impian dan cinta. Ketaatan dan kreativitas. Kebaikan dan kekuatan. Sekufu dan pertimbangan dakwah. Inilah sulitnya, jadi kalau anda mutarobbi jangan mempersulit murobbi, sebaliknya bila anda murobbi permudahlah urusan mutarobbi anda. Sebab salah satu ciri Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan (yassiru wa la tu’asiru).

Banyak tema-tema buku, kajian, diskusi dan seminar yang membahasa pernikahan dini. Tetapi yang kurang dikaji adalah mempersiapkan pernikahan dini. Sistem keluarga, masyarakat dan negara yang mendorong seorang ikhwan memberanikan diri melamar seseorang yang dijuluki akhwat. Inilah indahnya. Harapan memang tidak selalu sama dengan kenyataan. Sehingga inilah medan ujian. Sisapa yang terbaik dan terkuat menempuh ujian, dialah yang berhak menuai keindahan pernikahan dini. Nah yang menjadi masalah adalah kecenderungan manusiawi ikhwan untuk mendapatkan gadis yang lebih muda. Dihadapkan pada kenyataan bahwa akhwat lanjut usia yang berjumlah tidak sedikit. Perlu keberanian para ustadz untuk melakukan ta’adud. Sehingga kalau ada ustadz yang ‘mengompori’ nikah maka para ‘thaliban’ berhak menyarankan ustadz tersebut untuk ta’adud. Hal ini untuk menemukan titik keseimbangan jumlah ikhwan dan akhwat. Juga untuk menghindari LIFO karena darurat, bukan karena by design. Sebenarnya LIFO ataukah  FIFO itu sesuai kebijakan para stokis, akan tetapi haruslah itu dilakukan untuk kemaslahatan bukan karena semata otoritas.

Adalah kenyataan, bahwa jumlah akhwat (baca: wanita) lebih banyak dari ikhwan (baca: laki-laki). Apakah ini berkah atau justru ujian? Jawabnya tergantung kemampuan kita untuk memaknainya. Erkah karena salah satu bukti keberhasilan dakwah, ujian karena itu menjadi tugas para stokis dan downline untuk mencari jawabannya. Ini termasuk qodhoya dakwah, semoga tetap menjadi busyro. Tetapi bisa menjadi bumerang ketika terabaikan hak-haknya. Bukankah wanita (baca: wanita) adalah tiang negeri. Ia adalah ibu peradaban. Jika kita mendidik seorang wanita artinya kita telah mendidik suami dan anak-anaknya. Sehingga ujian jumlah akhwat yang melimpah harus diselesaikan dengan cara seksama da dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Ikhwan adalah harapan akhwat. Ia akan menjadi tulang punggung keluarga. Ialah pemberi nafkah. Pemecah masalah. Seseorang yang dipanggil suami dan ayah. Ia harus kuat dan baik. Memenuhi kriteria qowiyul amin (kuat dan amanah) seperti Nabi Musa as, sekaligus hafidzul ‘alim (mampu menjaga dan berilmu) seperti Nabi Yusuf as. Tidak hanya berjenggot tetapi juga harus bermuwashofat (salimul aqidah, shahihul ibadah, matiinul khuluq dst). Minimal seorang pejantan tangguh, maksimal mujahid yang lebih merindukan medan jihad daripada ranjang pengantin. Karena khoirukum fil jahiliyah, khoirukum fil Islam. Kebaikan nilai-nilai universal seperti kejujuran, menepati janji dan tidak bertipe pengkhianat adalah dibutuhkan untuk menjadi ikhwan sejati dambaan akhwat.

Justru mereka yang terkenallah yang bermasalah. Misalnya para selebritis. Dalam medan apapun: entertainment, politik termasuk dakwah. Mereka yang menduduki peran-peran publik, seperti ketua LDK, BEM, OMEK dan parpol dakwah berpeluang lebih besar untuk mengalami fitnah dakwah (dalam hal ini masalah nikah). Mereka memilih menikah dengan yang mereka kenal, mengenal mereka, yang mereka kenal tetapi tidak kenal mereka, atau dengan orang yang tidak kenal satu sama lain. Masalahnya mereka adalah public figure. Kebenaran mereka bisa menjadi pemicu riya’ atau sumber keteladanan. Kesalahan mereka adalah penghancur dakwah karena mereka berada di garda terdepan.

Solusi yang ditawarkan penulis dalam mengelola persediaan akhwat adalah pengendalian diri. Jika anda murobbi jadilah murobbi yang baik. Bila anda mutarobbi jadilah mutarobbi yang baik. Bila anda hanya pembaca jadilah pembaca yang baik. Karena sebaik-baiknya orang adalah orang yang baik. Adapun untuk menyikapi persediaan akhwat yang melimpah boleh dengan LIFO atau FIFO. Masalahnya adaqlah apakah penerapannya situasional, kondisional dan profesional ? Kepada para stokis tolong pertanyaan para downline dijawab dengan cinta, bukan praduga. Wallahu a’lamu bish shawab.

*) Downline dari stopkis yang tidak mau disebutkan namanya.

when everything is to be broken

Friday, February 23rd, 2007

"when everything is to be broken, i just want to remind who I am…" itulah syair yang sering terngiang di telinga ketika masalah berat menghadang langkah saya. ketika semua rencana berantakan, maka yang paling penting adalah memetakan diri kita, nilai-nilai yang kita pegang, dan berteriak lantang seperti JAcky chan :"Who Am I?". Bila kita ragu dengan langkah yang akan diambil, simaklah kata-kata berikut,"bukanlah kesulitan yang mebuat kita takut melangkah, tetapi ketakutan lah yang mempersulit langkah kita."

pilihan hidup

Sunday, February 18th, 2007

hidup itu memilih. Orang yang tidak berani memilih dia tidak berani memilih. Masalahnya memilih memiliki risiko. yaitu salah memilih. memilih tidak identik dengan judi. ada proses yang harus ditempuh agar tidak salah dalam memilih. atau kalaupun salah tidak akan menyesalinya sepanjang masa. kalau salah memilih baju orang butuh satu tahun untuk menyesalinya. salah beli lauk mungkin cuma satu hari masa penyesalannya. tetapi kalau salah memilih pasangan hidup butuh waktu yang lama dan pengorbanan yang tidak sedikit(bisa menyesal dunia dan akhirat). ada dua standar prosedur yang apabila kita lakukan maka insya Allah kita tidak akan menyesal:1. istisyarah (meminta saran orang yang berkompeten) dan 2. istikharah (meminta pilihan dari yang Allah SWT. sebagai pemilik ilmu, taqdir dan kekuasaan). siapa yang tidak berani memilih, maka nasib yang memberinya pilihan. karena tidak memilih pun adalah suatu pilihan (ingat golput kan?) so teman2, sahabat2 dan orang yang cintai pilihlah dengan pilihan yang baik dan benar…..:)