DOA UNTUK SEBUAH NAMA:

October 5th, 2008 by hanifacep

“(Yang dibacalan ini adalah), penjelasan tentang rahmat Rabb-mu kepada hamba-Nya, Zakariyya.

Yaitu ketika dia berdoa kepada Rabb-nya dengan suara yang lembut.

Dia (Zakariyya) berkata : Ya Rabb-ku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Rabb-ku

Dan sungguh aku khawatir terhadap keturunan sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu

Yang mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’kub; dan jadikanlah dia ya Rabb-ku seorang yang diridhai.”

(Allah berfirman)” Wahai Zakariyya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.

Dia (Zakariyya) berkata : Ya Rabb-ku bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua ?”

Allah berfirman :”Demikianlah.””Rabb-mu berfirman:”Hal itu mudah bagiKu; sungguh engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”

(Q.S Maryam 2 – 9)

Kisah Nabi Zakariyya adalah kisah bagaimana seorang manusia tidak boleh berputus-asa dari rahmat Allah SWT. Beliau sudah memasuki usia uzur sedangkan istrinya juga dalam kondisi mandul. Ketulusan doa beliau mengatasi semua keterbatasan manusiawi. Juga ketulusan cita-cita keturunan beliau sebagai penerus perjuangan dakwah. Melanjutkan pewarisan tugas risalah kenabian untuk menegakkan tauhid di tengah roda peradaban.

Saat ini begitu banyak orang tua yang berdoa mengharapkan keturunan.. Ada yang sudah mendapat vonis tidak akan mendapatkan keturunan. Atau mereka yang secara medis tidak bermasalah, tetapi belum dikaruniai keturunan. Ada yang memohon keturunan untuk sekadar membuktikan bahwa mereka tidak mandul. Atau sekedar pelengkap kebahagiaan. Nabi Zakariyya mengajarkan kepada kita bahwa memohon diberikan keturunan untuk melanjutkan estafet perjuangan dalam berdakwah. Dalam berdoa kita masih sering berfikir bagaimana cara Allah swt akan mengabulkan do’a tersebut. Padahal Allah SWT telah menyatakan bahwa kalau Allah menghendaki cukup dengan Kun Fayakun (Jadilah maka akan jadi)

Setiap permintaan ada konsekuensinya. Setiap doa harus bisa dipertanggungjawabkan. Ketika kita berdoa mengharapkan amanah keturunan. Maka sederet tugas mendidik anak telah kita terima. Dan dalam deretan pertama mendidik anak adalah memberi nama yang baik. Nabi Yahya adalah salah satu nama yang baik yang dipilih sebagai nama untuk keturunan Nabi Zakariyya. Orang tua Maryam juga menadzarkan keturunannya untuk berbakti kepada Allah SWT. Kelak Maryam pun menjadi ahli ibadah yang disebut-sebut Nabi sebagai salah satu wanita penghulu ahli surga.

Nama adalah cita-cita, harapan dan do’a, ia juga menjadi identitas bagi seseorang, tak hanya di dunia juga di hari akhir kelak, ketika masing-masing individu dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Maha Pencipta, semua dipanggil dengan nama masing-masing dan nama ayahnya. Oleh karena itulah, menjadi sebuah kewajiban bagi kami orang tua untuk memberi nama anak-anak kami dengan nama yang baik, indah dan mencerminkan harapan atas masa depan anak-dunia dan akhiratnya.

Setelah memberi nama yang baik, tanggungjawab selanjutnya adalah mendidik dan membekali, dan mengantarnya hingga mampu menjalankan tugas kehambaannya dan tugas kekhalifahannya sebagai pemakmur bumi. Bekalan itu tentu saja meliputi bekal jasmani dan ruhani, akal dan hati agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah baik fisik, akal, maupun jiwanya. Bimbingan dan arahan dari mereka yang berhasil mendidik anak-anak menjadi pribadi yang shalih dan shalihah sangat kami harapkan untuk melaksanakan tugas ini.

Haniya Rumaisya

Kami memilih nama Haniya Rumaisya melalui proses diskusi yang cukup panjang. Terutama dengan orang-orang terdekat. Memberi nama yang akan melekat sepanjang hayat, bahkan nama yang akan dibawa terus di dunia dan akhirat.

Haniya bermakna kebahagiaan sedangkan Rumaisya adalah sosok shahabiyah (shahabat wanita) yang menjadi teladan dalam keutamaan. Kebahagiaan yang kami harapkan adalah kebahagiaan yang mengandung keberkahan. Keberkahan yang ditandai dengan ziyadatul khoir (bertambahnya kebaikan).

Ustadz M. Fauzil Adhim menuliskan pesan singkat yang cukup bermakna:

Betapa sedikitnya
Anak-anak yang terlahir karena betul-betul
diharapkan kelahirannya untuk dakwah
Sebagaimana lahirnya Nabi Yahya
Atas do’a tulus Nabi Zakariyya
Maka, iringilah hidupnya
Dengan do’a yang tak putus-putus
Untuk kemanfaatan bagi umat dan agama ini

Doakan ia dengan tulus
Bukan untuk kebahagiaannya
Tetapi untuk keberkahannya bagi dakwah
Sebab bahagia itu pasti ada
Jika hidupnya berkah
sementara dalam kebahagiaan
Belum tentu ada berkah….

Semoga putri kami, Haniya Rumaisya adalah termasuk anak yang sedikit itu.

hari-hariku dengan istri

January 3rd, 2008 by hanifacep

ngga terasa saya sudah menjalani hidup berumah tangga sejak tanggal 18 oktober 2007 atau 7 syawal 1428 menurut muhammadiyah dan 6 syawal 1428 menurut pemerintah :)

sebenarnya saya ingin segera menceritakan hari-hari yang saya lalui bersama istri yang baru (padahal memang she is the only I have)…tetapi saya khawatir cerita itu hanya euforia pengantin baru…

sekarang saya merasa inilah saat yang tepat untuk menuliskan hari-hari itu…tulisan ini akan terdiri dari beeberapa episode…dengan alur yang semaunya..maju-mundur.

o, ya istri saya asli dari karang pucung-mendala,sirapog, brebes, jawa tengah…semakin panjang urutannya berarti semakin sulit dijangkau daerah tersebut. tidak hanya sulit tapi butuh pengorbanan.

saya berangkat akad beserta keluarga dengan menyewa bis dua pertiga. semakin dekat ke lokasi, semakin menegangkan perjalanannya. pertama karena memang daerahnya pegunungan yang jalannya curam, berliku dan sempit. kedua sopir tersebt baru pertama kali melewati jalan itu, ketiga bis yang kita pakai ukurannya hampir memenuhi jalan yang ada, sehingga harus bergantian dengan mobil lain apabila berpapasan….sebelum lupa nama istri saya fitrianingsih, mahasiswi sastra inggris undip… semester akhir

to be continued

Mengakhiri Sepi

September 25th, 2007 by hanifacep

Insya Allah kami akan melangsung pernikahan kami :

hari/tgl : kamis, 18 oktober 2007

tempat : karangpucung rt 6/1 desa mendala kec. sirampog. kab. brebes.

pemeran utama : hanif acep nur adhi dan fitrianingsih

taujih : ustadz machfulyono

mohon doa restunya, bagi yang berminat hadir, mohon konfirmasinya biar nggak tersesat di 081391037564.

Bukan Cinta Konvensional

August 29th, 2007 by hanifacep

Ini buku pertama saya yang dicetak. Semua yang pertama memang menimbulkan sensasi tersendiri. Konon malam pertama juga sesuatu yang sensasional: baik malam pertama pengantin maupun malam pertama di alam kubur.

Buku ini ditulis untuk membantu menjelaskan para aktivis yang ingin melangsungkan pernikahan secara islami dengan bahasa renyah, mencerahkan sekaligus menghibur. Saya ingin orang tersentak logika berpikirnya tetapi tetap bisa tersenyum.

Awalnya keinginan untuk membuatkan souvenir pernikahan seorang sahabat yang ingin melangsungkan pernikahan secara islami. Beliau bekerja di sebuah perbankan syariah. Daripada dibagikan souvenir gantungan kunci, kipas, atau aksesoris lain, saya mengusulkan sebuah buku saku. Karena sya yang usul, saya harus bertanggung jawab merealisasikannya. Padahal menikah saja saya belum. Alhamdulillah buku ini saya tulis ketika saya pun sedang menjalani proses yang serius.

Kendala yang dihadapi para aktivis adalah benturan budaya dengan orang tua. Buku ini membantu untuk melobi para sesepuh untuk bisa menerima pernikahan cara Islami. Merubah kecurigaan para tamu undangan menjadi simpati. Semoga bermanfaat…

SMILE UP

April 17th, 2007 by hanifacep

wassalamu’alaikum wrwb.

smile is not movement of face, it’s kind of sophisticated proces in our body. when our heart is peaceful and comfort enough it will command our mind. Mind delegates it to our face to make special movement: open the teeth and pull the surroundings. it’s nice to see everyone who smile eventhough he/she is not handshome or beautiful in our standar. the conclusion is smile up and everything will run on His rules. we can not change whatever happened, we only can change impact of the changes. But we must change our soul, mind and body because everything changes: cloud in the sky, water in the river, wind of change face our step by step in life.

(someone who learn an english subject. pardon me if u get some mistakes)

YANG GEMUK DI JALAN DAKWAH

February 26th, 2007 by hanifacep

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” (K.H. Ahmad Dahlan) Tulisan ini bukan hanya ditujukan kepada warga Muhammadiyah, tetapi kepada siapa saja yang menjadi obyek, pelaku bahkan pengamat dakwah. Untuk memulainya ada baiknya kita simak kisah dalam sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang sahabat yang sangat miskin. Sahabat ini bernama Tsa’labah. Beliau dianugerahi semangat ibadah dan dakwah yang luar biasa minus kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Hingga dengan penuh harap meminta Rasulullah mendoakan agar dimudahkan rizkinya oleh Allah SWT, dengan harapan ia dapat lebih semangat beribadah dan berdakwah. Akan tetapi setelah dibukan rizki, bisnisnya jaya, ternaknya berlimpah, pakaiannya tidak harus bergantian dengan istrinya…apa yang terjadi : dunia memalingkannya dari akhirat. Ketahuilah dunia itu hijau dan manis, tetapi yang paling bahagia adalah yang paling membencinya, sedangkan yang paling sengsara adalah yang paling menginginkannya. Dunia akan menipu orang yang meminta nasihatnya dan menyesatkan orang yang menaatinya. Dunia adalah tempat kesusahan, bukan kesenangan. Orang yang mengetahuinya, tidak gembira dengan kelapangan yang didapat atau bersedih karena kesengsaraan yang dialaminya. Allah menjadikan pahala akhirat sebagai kompensasi dari ujian dunia. Dunia boleh di tangan tapi tidak boleh merasuk ke dalam hati dan jiwa seorang mukmin. Hati seorang mukmin sudah qonaah dengan janji Allah SWT tentang jannah yang akan diraihnya bila ia mati dalam khusnul khatimah, atau meraih gelar syuhada dari Allah SWT. Fase dakwah sudah berada di tikungan sejarah. Seperti ketika Rasullah SAW bersama para sahabat dalam fase perang Hunain. Banyak di kalangan sahabat yang terkena penyakit :”Idz a’jabatkum bikatsratikum.” Dan gejala (baru gejala) penyakit wahn mulai mewabah. Allah memberikan ujian lewat perang ini. Hampir saja umat Islam dikalahkan oleh musuh-musuh Islam saat itu. Atas nikmat dan pertolongan Allah kekalahan yang di depan mata menjadi kemenangan. Ujian itu pun belum berakhir, ghanimah adalah ujian selanjutnya. Harta yang me;limpah ruah menggoda keimanan para sahabat binaan Rasulullah. Karena tabiat bagi pencari akhirat; dunia akan datang mengodanya. Keadilan Rasulullah sempat digugat. Tetapi akhirnya teruji mana loyang dan mana emas. Mana mukmin dan mana munafik. Mana ahli akhirat dan mana ahli dunia. (Semoga kita termasuk golongan ahli akhirat, dan berhak atas ridlo dan jannah Allah SWT). Mereka yang mendahulukan akhirat daripada dunia memilih (menaati) Rasulullah daripada berebut dengan orang yang baru dibukakan hatinya oleh iman dan masih tergoda oleh harta dunia (mualaf Islam dan dakwah sekaligus). Itulah itsar ahli Madinah yang sempat termakan isu bahwa Rasulullah mendahulukan kaumnya dari kaum Anshar. Itulah penguji keimanan “ghanimah”. Maka dalam surat An-Nashr ayat 1 sampai 3 disebutkan : “Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka tasbihlah engkau sertu memuji Rabb-Mu dan minta ampunlah engkau kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Penerima Taubat.” Jadi kalau anda adalah seorang dai yang dahulu sering berjalan kaki atau bersepeda pancal dengan Al-Quran di saku ata tas anda, kemudian saat ini anda duduk sebagai anggota dewan yang terhormat (saya kurang setuju dengan istilah ini, sebab dimana-mana yang namanya suatu jabatan lebih tinggi daripada wakilnya- rakyat lebih tinggi dan terhormat daripada wakilnya-red) berjas dan berdasi, sering ‘wiridan sms’ dengan hp model terbaru, kendaraan paling nyaman se-Indonesia, fasilitas kehidupan yang serba ‘ada’, wewenang dan pengaruh yang mempesona anda…….waspadalah, sekuat apapun keimanan anda, anda adalah manusia yang lemah dan hina dina….apalagi kalau perut sudah mulai buncit….atau anda adalah aktivis mahasiswa yang lebih makmur dari rekan anda yang berwira usaha….atau anda adalah ustadz lulusan Timur Tengah yang laris dimana-mana, dengan penghasilan melebihi lulusan Chicago University…atau anda termasuk yang jualan label ‘syariah’, tanpa memiliki keseriusan memperjuangkan syariah Allah dan hanya ikut-ikutan saja meraih pangsa pasar umat…waspadalah, apalagi kalau anda berlimpah nikmat padahal anda bergelimang maksiat, itulah istidraj…sekali lagi waspadalah, kejahatan tidak hanya disebabkan oleh niat dari si pelaku tetapi seringkali juga disebabkan karena adanya kesempatan, waspadalah………waspadalah…….waspadalah (kata Bang Napi).

LIFO DAN FIFO

February 26th, 2007 by hanifacep

Lifo adalah kepanjangan dari Last In First Out, sedangkan FIFO adalah First In First Out, So what’s is the matter?

Konsep LIFO dan FIFO biasanya diterapkan dalam mengelola persediaan. Nah masalahnya adalah tentang persediaan akhwat yang melimpah dan ikhwan yang lack of stock. Bagaimana melakukan manajemen persediaan yang tepat. LIFO atau FIFO? Kemudian bagaiman menjadi stokis  (murobbi atau qiyadah dakwah) yang baik? Tulisan ini berusaha melakukan deskripsi, argumentasi dan persuasi.

Ujung-ujungnya nikah. Itulah keluhan di antara para ikhwan yang belum menikah, ketika mendengarkan kajiaan dari seorang ustadz. Adapun ustadz pun sering mengeluh, apakah materi kajiannya belum mampu menggugah para ikhwan untuk menjawab penantian panjang para akhwat.

Akhwat adalah wanita. Sedangkan ikhwan adalah lelaki. Seorang akhwat terkadang tidak bisa mengalahkan kewanitaannya dalam momen-momen tertentu. Khususnya ketika menjaga ‘fitnah hati’ menjelang hari H, bulan B, tahun T pernikahannya. Lalu apakah ikhwan lebih mampu menjaga keikhwanannya untuk mengendalikan kelelakiannya ? Wallahua’lam, yang jelas ikhwan adalah manusia biasa, bedanya ia memahami, menghayati dan berusaha mengamalkan batas-batas syar’i. Karena sesuatu yang manusiawi belum tentu syar’i. Nah disinilah titik temu penantian akhwat dan keraguan ikhwan.

Rumus persamaan dalam matematika menyatakan :

Jika x + y = 0, maka x ≠ y

Apabila variabel x kita ganti keraguan ikhwan dan penantian akhwat kita beri variabel y, maka agar terjadi titik pernikahan harus ada salah satu variabel yang bernilai positif. Misalkan kita ganti variabel x dengan kemantapan ikhwan dan variabel y dengan ‘pemaksaan’ (baca doa dan ikhtiar) akhwat, maka hasilnya tidak akan 0, tetapi bisa 1, 2, 3… dan seterusnya. Tergantung jumlah anak yang diperoleh dari hasil pernikahan.

Stokis (baca: murobbi) adalah sosok orang tua angkat bagi downline (baca : mutarobbi). Ujian seorang murobbi, salah satunya adalah mempersiapkan usroh bagi downlinenya. Secara spesifik tugas murobbi dalam hal ini adalah mencarikan istri bagi mutarobbinya, sebagai konsekuensi larangan berpacaran dalam tema-tema liqo’. Sehingga murobbi harus betul-betul dewasa, menyelami dan mengarahkan keinginan mutarobbinya. Bahsa qoror kurang tepat untuk situasi hari ini, apalagi dalam hal ‘akulturasi generasi ikhwan-akhwat’(baca: pernikahan). Harus ada titik temu harapan dan kenyataan. Impian dan cinta. Ketaatan dan kreativitas. Kebaikan dan kekuatan. Sekufu dan pertimbangan dakwah. Inilah sulitnya, jadi kalau anda mutarobbi jangan mempersulit murobbi, sebaliknya bila anda murobbi permudahlah urusan mutarobbi anda. Sebab salah satu ciri Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan (yassiru wa la tu’asiru).

Banyak tema-tema buku, kajian, diskusi dan seminar yang membahasa pernikahan dini. Tetapi yang kurang dikaji adalah mempersiapkan pernikahan dini. Sistem keluarga, masyarakat dan negara yang mendorong seorang ikhwan memberanikan diri melamar seseorang yang dijuluki akhwat. Inilah indahnya. Harapan memang tidak selalu sama dengan kenyataan. Sehingga inilah medan ujian. Sisapa yang terbaik dan terkuat menempuh ujian, dialah yang berhak menuai keindahan pernikahan dini. Nah yang menjadi masalah adalah kecenderungan manusiawi ikhwan untuk mendapatkan gadis yang lebih muda. Dihadapkan pada kenyataan bahwa akhwat lanjut usia yang berjumlah tidak sedikit. Perlu keberanian para ustadz untuk melakukan ta’adud. Sehingga kalau ada ustadz yang ‘mengompori’ nikah maka para ‘thaliban’ berhak menyarankan ustadz tersebut untuk ta’adud. Hal ini untuk menemukan titik keseimbangan jumlah ikhwan dan akhwat. Juga untuk menghindari LIFO karena darurat, bukan karena by design. Sebenarnya LIFO ataukah  FIFO itu sesuai kebijakan para stokis, akan tetapi haruslah itu dilakukan untuk kemaslahatan bukan karena semata otoritas.

Adalah kenyataan, bahwa jumlah akhwat (baca: wanita) lebih banyak dari ikhwan (baca: laki-laki). Apakah ini berkah atau justru ujian? Jawabnya tergantung kemampuan kita untuk memaknainya. Erkah karena salah satu bukti keberhasilan dakwah, ujian karena itu menjadi tugas para stokis dan downline untuk mencari jawabannya. Ini termasuk qodhoya dakwah, semoga tetap menjadi busyro. Tetapi bisa menjadi bumerang ketika terabaikan hak-haknya. Bukankah wanita (baca: wanita) adalah tiang negeri. Ia adalah ibu peradaban. Jika kita mendidik seorang wanita artinya kita telah mendidik suami dan anak-anaknya. Sehingga ujian jumlah akhwat yang melimpah harus diselesaikan dengan cara seksama da dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Ikhwan adalah harapan akhwat. Ia akan menjadi tulang punggung keluarga. Ialah pemberi nafkah. Pemecah masalah. Seseorang yang dipanggil suami dan ayah. Ia harus kuat dan baik. Memenuhi kriteria qowiyul amin (kuat dan amanah) seperti Nabi Musa as, sekaligus hafidzul ‘alim (mampu menjaga dan berilmu) seperti Nabi Yusuf as. Tidak hanya berjenggot tetapi juga harus bermuwashofat (salimul aqidah, shahihul ibadah, matiinul khuluq dst). Minimal seorang pejantan tangguh, maksimal mujahid yang lebih merindukan medan jihad daripada ranjang pengantin. Karena khoirukum fil jahiliyah, khoirukum fil Islam. Kebaikan nilai-nilai universal seperti kejujuran, menepati janji dan tidak bertipe pengkhianat adalah dibutuhkan untuk menjadi ikhwan sejati dambaan akhwat.

Justru mereka yang terkenallah yang bermasalah. Misalnya para selebritis. Dalam medan apapun: entertainment, politik termasuk dakwah. Mereka yang menduduki peran-peran publik, seperti ketua LDK, BEM, OMEK dan parpol dakwah berpeluang lebih besar untuk mengalami fitnah dakwah (dalam hal ini masalah nikah). Mereka memilih menikah dengan yang mereka kenal, mengenal mereka, yang mereka kenal tetapi tidak kenal mereka, atau dengan orang yang tidak kenal satu sama lain. Masalahnya mereka adalah public figure. Kebenaran mereka bisa menjadi pemicu riya’ atau sumber keteladanan. Kesalahan mereka adalah penghancur dakwah karena mereka berada di garda terdepan.

Solusi yang ditawarkan penulis dalam mengelola persediaan akhwat adalah pengendalian diri. Jika anda murobbi jadilah murobbi yang baik. Bila anda mutarobbi jadilah mutarobbi yang baik. Bila anda hanya pembaca jadilah pembaca yang baik. Karena sebaik-baiknya orang adalah orang yang baik. Adapun untuk menyikapi persediaan akhwat yang melimpah boleh dengan LIFO atau FIFO. Masalahnya adaqlah apakah penerapannya situasional, kondisional dan profesional ? Kepada para stokis tolong pertanyaan para downline dijawab dengan cinta, bukan praduga. Wallahu a’lamu bish shawab.

*) Downline dari stopkis yang tidak mau disebutkan namanya.

when everything is to be broken

February 23rd, 2007 by hanifacep

"when everything is to be broken, i just want to remind who I am…" itulah syair yang sering terngiang di telinga ketika masalah berat menghadang langkah saya. ketika semua rencana berantakan, maka yang paling penting adalah memetakan diri kita, nilai-nilai yang kita pegang, dan berteriak lantang seperti JAcky chan :"Who Am I?". Bila kita ragu dengan langkah yang akan diambil, simaklah kata-kata berikut,"bukanlah kesulitan yang mebuat kita takut melangkah, tetapi ketakutan lah yang mempersulit langkah kita."

pilihan hidup

February 18th, 2007 by hanifacep

hidup itu memilih. Orang yang tidak berani memilih dia tidak berani memilih. Masalahnya memilih memiliki risiko. yaitu salah memilih. memilih tidak identik dengan judi. ada proses yang harus ditempuh agar tidak salah dalam memilih. atau kalaupun salah tidak akan menyesalinya sepanjang masa. kalau salah memilih baju orang butuh satu tahun untuk menyesalinya. salah beli lauk mungkin cuma satu hari masa penyesalannya. tetapi kalau salah memilih pasangan hidup butuh waktu yang lama dan pengorbanan yang tidak sedikit(bisa menyesal dunia dan akhirat). ada dua standar prosedur yang apabila kita lakukan maka insya Allah kita tidak akan menyesal:1. istisyarah (meminta saran orang yang berkompeten) dan 2. istikharah (meminta pilihan dari yang Allah SWT. sebagai pemilik ilmu, taqdir dan kekuasaan). siapa yang tidak berani memilih, maka nasib yang memberinya pilihan. karena tidak memilih pun adalah suatu pilihan (ingat golput kan?) so teman2, sahabat2 dan orang yang cintai pilihlah dengan pilihan yang baik dan benar…..:)

blora: berani, loyal, rasional

January 30th, 2007 by hanifacep

kalau pramoedya ananta toer pernah menulis :"Cerita Dari Blora", itu bukan suatu yang kebetulan. Pertama dia orang Blora, kedua blora memang patut diceritakan, sebagaimana katon bagaskara mengabadikan yogyakarta dalam lagunya. saya tidak se-ideologi dengan pram, persamaannya saya orang blora dan suka sastra, tepatnya olah pena. orang blora punya motto "berani, loyal dan rasional", sebagaimana tertera dalam baliho di tengah kota. kota kecil yang tidak terlalu diperhitungkan dalam kancah perpolitikan nasional. Meski kualitas minyak dan kayu jatinya tiada duanya. lain kali saya cerita deh tentang blora